Suatu Negara dapat dinilai tingginya peradaban dengan melihat kemampuan Negara tersebut sampai berapa jauh dapat mengembangkan kebudayaannya, dan untuk itu kebudayaan memegang peranan sebagai gambaran dari generasi ke generasi. Sejak zaman prasejarah hingga zaman sekarang kebudayaan senantiasa mengalami transisi. Ini terjadi bukan saja dari pengaruh – pengaruh luar / asing, tetapi juga diakibatkan dengan adanya penemuan – penemuan dari lingkungan masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan adalah suatu totalitas dari proses dan hasil segala aktivitas suatu bangsa dalam bidang estetis, moral dan ideasional yang terjadi melalui proses integrasi, baik integrasi historis maupun pengaruh jangka panjangnya. Produknya sendiri dapat berwujud barang buatan (artifact), kelembagaan social (socifact), dan buah pikiran (mentifact)1[1].
[1] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Gramedia, Jakarta, 1992, h. 195 – 203
Hal tersebut menggugah saya untuk merancang sebuah Batik Center yang didalamnya terdapat fasilitas – fasilitas untuk mengakomodasi tujuannya sebagai tempat konservasi, informasi, penelitian, rekreasi, pengembangan dan pelestarian budaya batik. Batik Center ini didedikasikan sebagai lembaga non profit yang diperuntukkan untuk umum dan dapat dinikmati oleh siapa saja, baik pecinta batik, pelajar / mahasiswa, pedagang batik, peneliti, maupun masyarakat umum lainnya. Dengan demikian salah satu kebudayaan Indonesia akan dapat tetap hidup lestari.
Konsep warna pada interior Batik Center adalah penggunaan warna putih, abu – abu, Cokelat dan hijau. Warna diatas dipilih sebagai pencitraan warna – warna yang memberikan suasana modern namun tetap terkesan tradisional dengan penggunaan warna cokelat tanah dan hijau daun , sebagai warna yang cenderung sebagai warna natural. Pada penerapannya warna-warna tersebut nantinya akan berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan warna-warna lainnya. Sedangkan pada area pamer, digunakan warna – warna biru nila dan cokelat sebagai perwujudan dari pewarnaan Batik dahulu.
Konsep Bentuk yang digunakan adalah
Pada Area pamer, konsep bentuk geometris dapat dilihat pada pembagian ruang display, sedangkan untuk konsep repetisi diaplkasikan pada konsep pendisplayan batik, dan untuk konsep bentuk dnamis diterapkan pada penggunaan pola lantai dan ceiling yang menggunakan kain dibentangkan sebagai armatur lampu dan juga sebagai pengontrol proporsional ketinggian pada ruangan.
Powered by Sketch up, Photoshop, Auto CAD, 3D Max, Vray for 3D Max
3D Rendering by Dicke Nazzary Akbar Lubis





One Comment
gw suka bngt ma ta lu git, keren….
gambar 3dnya jg berkarakter, beda sm orang lain,hebat gittaaaa..