About
ini blog gita.. just be your self..Pages
Archives
-
Recent Posts
Tags
Categories
-
Recent Comments
Ramil on About Me usni mubarok on DIALux fuan on About Me soerya on Knauf Booth theodora on Kitchen Set theodora on Ta Wan Restaurant theodora janenita on Ta Wan Restaurant theodora janenita on BATIK MUSEUM meLan on Residence Kasyfi on Middle cost Apartment Category Cloud
-
Top Posts
-
Blog Stats
- 6,612 hits
Traffic
-
Spam Blocked
video player
[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=SW4WZJ3wjlQ&hl=en&fs=1&]
Daily Archives: May 28th, 2008

http://dickelubis.files.wordpress.com/2008/05/dsc_0060e.jpg
Bangkit itu susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku
aku untuk indonesiaku
” Deddy Mizwar”
Suatu Negara dapat dinilai tingginya peradaban dengan melihat kemampuan Negara tersebut sampai berapa jauh dapat mengembangkan kebudayaannya, dan untuk itu kebudayaan memegang peranan sebagai gambaran dari generasi ke generasi. Sejak zaman prasejarah hingga zaman sekarang kebudayaan senantiasa mengalami transisi. Ini terjadi bukan saja dari pengaruh – pengaruh luar / asing, tetapi juga diakibatkan dengan adanya penemuan – penemuan dari lingkungan masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan adalah suatu totalitas dari proses dan hasil segala aktivitas suatu bangsa dalam bidang estetis, moral dan ideasional yang terjadi melalui proses integrasi, baik integrasi historis maupun pengaruh jangka panjangnya. Produknya sendiri dapat berwujud barang buatan (artifact), kelembagaan social (socifact), dan buah pikiran (mentifact)1[1].
[1] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Gramedia, Jakarta, 1992, h. 195 – 203
Hal tersebut menggugah saya untuk merancang sebuah Batik Center yang didalamnya terdapat fasilitas – fasilitas untuk mengakomodasi tujuannya sebagai tempat konservasi, informasi, penelitian, rekreasi, pengembangan dan pelestarian budaya batik. Batik Center ini didedikasikan sebagai lembaga non profit yang diperuntukkan untuk umum dan dapat dinikmati oleh siapa saja, baik pecinta batik, pelajar / mahasiswa, pedagang batik, peneliti, maupun masyarakat umum lainnya. Dengan demikian salah satu kebudayaan Indonesia akan dapat tetap hidup lestari.
Konsep warna pada interior Batik Center adalah penggunaan warna putih, abu – abu, Cokelat dan hijau. Warna diatas dipilih sebagai pencitraan warna – warna yang memberikan suasana modern namun tetap terkesan tradisional dengan penggunaan warna cokelat tanah dan hijau daun , sebagai warna yang cenderung sebagai warna natural. Pada penerapannya warna-warna tersebut nantinya akan berdiri sendiri atau dikombinasikan dengan warna-warna lainnya. Sedangkan pada area pamer, digunakan warna – warna biru nila dan cokelat sebagai perwujudan dari pewarnaan Batik dahulu.
Konsep Bentuk yang digunakan adalah
Pada Area pamer, konsep bentuk geometris dapat dilihat pada pembagian ruang display, sedangkan untuk konsep repetisi diaplkasikan pada konsep pendisplayan batik, dan untuk konsep bentuk dnamis diterapkan pada penggunaan pola lantai dan ceiling yang menggunakan kain dibentangkan sebagai armatur lampu dan juga sebagai pengontrol proporsional ketinggian pada ruangan.
Powered by Sketch up, Photoshop, Auto CAD, 3D Max, Vray for 3D Max
3D Rendering by Dicke Nazzary Akbar Lubis








